Tahun 2020 Target Ekspor Beras Jepang 100 Ribu Ton

Ekspor beras dan beras olahan Jepang ditargetkan 100.000 ton per tahun 2020 atau sekitar 60 miliar yen penghasilan. Namun kenyataan ekspor per tahun lalu (2018) hanya sekitar 13.000 ton, jumlah ini jauh dari target. "Kita berjuang untuk meningkatkan ekspor beras dan beras olahan dalam waktu dekat ini agar dapat meningkat," ungkap Shinjiro Koizumi, Ketua Divisi Pertanian partai LDP (liberal) dan juga Wakil Ketua (First executive vice president) LDP baru baru ini dalam kunjungannya ke beberapa daerah pertanian Jepang.

Ekspor beras Jepang (tidak termasuk bantuan makanan) telah mencapai rekor tertinggi pada tahun 2018, kenaikan 17 persen menjadi 13.794 ton, atau dari nilai uang meningkat 18 persen menjadi 3,7 miliar yen. Jumlahnya masih lebih kecil dari kerang (47,6 miliar yen) dan daging sapi (24,7 miliar yen), jumlah uang telah meningkat sepuluh kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir karena meningkatnya permintaan makanan Jepang di luar negeri. China telah mencabut larangan impor beras sejak November 2018 akibat bencana 11 Maret 2011 dan ledakan reaktor nuklir di Fukushima lalu. Ekspor beras Jepang ke China kemungkinan akan meningkat besar dari berbagai area produksi dalam tahun 2019 ini.

Sebelumnya, 60 persen ekspor beras Jepang lewat Hong Kong (tidak termasuk Cina daratan) dan Singapura. Namun dengan pembukaan pasar China, ekspor beras Jepang terbanyak kemungkinan nantinya ke China. Setelah KTT Jepang Cina pada Mei 2006, Cina baru mengakui fasilitas penggilingan padi Hyogo dan Hokkaido sebagai basis perdagangan. JA (Japan Agriculture) Minaho mengirimkan beras ke Perfektur Hyogo, dan dapat mengekspor dari Pelabuhan Kobe.

Hal tersbeut dapat diekspor lebih cepat daripada rute Yokohama konvensional. Pada Oktober 2006, pedagang grosir beras utama, Tree Deok Hae dan Asosiasi Koperasi Pertanian Hokuren (Kota Sapporo), untuk pertama kalinya mengekspor "Yumepirika" dari pelabuhan di Teluk Ishikari Hokkaido ke Shanghai awal Oktober 2018 sebesar 12 ton. "Sektor swasta Jepang mulai mendapat manfaat dari perjanjian antara kedua negara (Jepang China)," kata Makoto Hirayama, presiden pedagang grosir beras Kitoku Shinryo, yang menjual produksi berasnya ke Shanghai.

Peningkatan volume ekspor tahunan dari Hokkaido ke China saja sedikitnya 300 ton kemungkinan akan terlihat di tahun ini (2019) dari Federasi Koperasi Pertanian Hokuren. China menghentikan impor makanan dari 10 perfektur, termasuk Fukushima, Miyagi, bagian Kanto, dan Niigata. Kali ini, hanya beras di Niigata (kecuali produk olahan seperti permen dan sake) yang diangkat.

"Saya ingin menjualnya ke kota kota lain dimulai dengan Shanghai," kata Motokazu Koide, Ketua Asosiasi Nasional Koperasi Pertanian (JA All Farmers). Kementerian Pertanian Jepang menetapkan tujuan untuk mengekspor 100.000 ton beras dan produk olahan (dikonversi dari gula gula dan sake menjadi konsumsi beras) dalam tahun 2019 dan 2020. Kitoku Shinryo dan Shinmei akan menangani 60.000 ton, sisanya (target) akan dikirim oleh kelompok JA, asosiasi koperasi pertanian utama negara Jepang dan berbagai perusahaan lain di Jepang untuk ekspor.

Namun ada berbagai rintangan seperti harga beras Jepang yang jadi sangat mahal di negara ekspor karena pajak masuk yang tinggi, sehingga hanya dibeli oleh orang kaya saja. Petani padi Jepang juga tidak selalu mendukung pengiriman beras mereka ke luar negeri, juga sebagai salah satu hambatan ekspor beras Jepang ke luar negeri.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *