Moncer di Real Madrid & Juventus Cara Bermain Berubah Diprediksi Dukun Cidera Cristiano Ronaldo

Sosok Cristiano Ronaldo, kini menjadi andalan Juventus, kehadirannya terbukti membuat penampilan si Nyonya Tua bertaji. Namun, mengamati Cristiano Ronaldo, ada perubahan cara bermain,sejak dari Manchester United, Real Madrid hingga saat ini di Juventus. Ada alasan yang jelas dari perubahan permainan Cristiano Ronaldo : cidera.

Dikutip dari Sportbible , semua bermula pada Piala Dunia 2014 yang digelar di Afrika Selatan, kala itu Ronaldo datang membela Portugal dengan gelar Ballon d'Or usai membawa Real madrid juara Liga Champions. Portugal diunggulkan saat itu dengan adanya Ronaldo, tetapi saat itu ada berita tidak sedap menghantui. Dikutip dari Independent, seorang dukun asal Ghana, Nana Kwaku Bonsam, memprediksi Cristiano Ronaldo akan mengalami cidera, bukan hanya satu melainkan dua cidera berbeda.

Padahal, sebelumnya Cristiano Ronaldo tidak pernah mengalami cidera parah, hanya masalah retak telapak kaki yang membuatnya absen lama, saat itu musim 2008 2009 bersama Manchester United,sehingga opini sang dukun dianggap isapan jempol belaka. Tetapi, yang terjadi Cristiano Ronaldo mengalami dua cidera sekaligus, yakni Tendinosis dan juga hamstring, ciderayang memaksanya absen dalam beberapa laga uji coba Portugal saat itu. Cidera Tendinosis lah yang memaksanya mengubah cara bermain, lalu apa itu cidera tendinosis?

Tendinosis adalah degenerasi kolagen pada tendon lutut, karena penggunaan yang berlebih, dengan waktu istirahat yang kurang. Cidera ini tidak bisa disembuhkan dan yang lebih parah : cidera ini menggerogoti kolagen Cristiano Ronaldo, akibatnya, kekuatan lututnya makin lama makin lemah dan akan terus melemah selama masih terus digunakan. Kolagen pada lututnya juga mengalami degenerasi, artinya, kondisi lutut Ronaldo tidak pernah mencapai 100 persen sempurna, justru semakin berkurang kemampuannya.

Ronaldo coba mengakalinya dengan latihan selama 6 8 jam sehari hanya untuk memperbaiki lututnya, dan proses itu dijalani Ronaldo pada musim 2014. Tentu, di usia saat itu 29 tahun, kita kehilangan eksplosifitas Ronaldo yang mestinya sedang di puncak permainan terbaiknya. Tetapi,di usia 29 tahun itulah titik balik sang megabintang, permainannya berubah, ia tidak lagi menjadi pemain dengan daya ledak atau sprint dalam 90 menit, permainannya mengandalkan efektifitas menendang dan penempatan posisi.

Ronaldo tidak lagi memaksakan dribble dalam pertandingan, yang ia lakukan adalah menempatkan posisi terbaik untuk menerima umpan dari rekan rekannya. Buktinya, dilansir dari Opta, sebelum cidera Ronaldo pada Mei 2014, setidaknya Ronaldo melakukan 10 kali dribble yang menghasilkan gol dalam 18 laga. Setelah cidera ia hanya mencatatkan 2 dribble yang menghasilkan gol, ini tidak lepas dari perubahan cara bermain sang penyerang.

Tetapi, permainan inilah yang membuat Ronaldo masih menjadi mesin gol bagi Real Madrid sebelum hengkang ke Juventus, karena meskipun mengurangi cara berlari, ia menggunakan postur tubuh dan efektiftasnya dalam menyelesaikan peluang dengan baik. Cideranya sempat membuatnya berpikir untuk pensiun usai gelaran Euro 2016. Pada Euro 2016, Portugal melaju ke final menghadapi Prancis, Ronaldo dipasangkan di depan dengan Quaresma, namun petaka terjadi.

Sentuhan kaki kanan Payet kepada lutut Ronaldo membuatnya mengerang kesakitan, yang mengejutkan lagi, Ronaldo tidak mampu menyelesaikan laga karena cideranya. Beruntung, Portugal sukses meraih gelar juara usai mengalahkan Prancis dengan skor tipis 1 0. Cideranya kambuh dan bahkan kabar berhembus, bahwa dirinya akan pensiun dini karena cidera tersebut.

Tetapi disiplinnya seorang Ronaldo membuatnya masih bisa bermain apik hingga hari ini, bahkan masih menghasilkan beberapa gol cantik bagi Juventus. Cidera Ronaldo memang tidak bisa disembuhkan dan bisa saja berakibat fatal dikemudian hari,tetapi Ronaldo membuktikan kualitasnya sebagai pesepakbola dengan tekat dan detriminasi yang tinggi.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *