Fakta-fakta Lebah Raksasa Asal Maluku, Pernah Dijual Ratusan Juta Rupiah

Terekamnya lebah raksasa Wallace atau lebah pluto (Megachile pluto) di Maluku Utara adalah oasis di tengah penurunan keanekaragaman jenis dan populasi serangga secara global. Lebah Wallace tak hanya memiliki ukuran besar, dia juga memiliki beberapa karakteristik unik yang tidak dimiliki lebah lain. Berikut adalah 7 fakta menarik tentang lebah Wallace, si hitam dari Maluku Utara.

Salah satu alasan kenapa lebah Wallace disebut raksasa dan terbesar di dunia, tak lain karena ukurannya yang jauh lebih besar dibanding lebah Eropa. Lebah Wallace betina panjangnya bisa mencapai empat sentimeter dan panjang lidah sampai tiga sentimeter. Dengan tubuh yang besar, bentangan sayap lebah Wallace bisa sampai enam sentimeter. Ukuran lebah betina Wallace jauh lebih besar dibanding lebah jantan yang ukurannya kurang dari tiga sentimeter atau hanya satu inci.

Peneliti lebah LIPI Sih Kahono menjelaskan, lebah raksasa Wallace merupakan satu dari 456 jenis lebah yang ditemukan di Indonesia dan hanya ditemukan di sejumlah pulau di Maluku Utara. Kalau lebah Eropa menyengat akan langsung mati, maka hal ini tak terjadi pada lebah Wallace. Menurut Dr Simon Robson dari Universitas Sydney yang baru saja menemukan lebah Wallace di hutan tropis Maluku Utara, lebah itu bisa menyengat sampai beberapa kali dan sengatannya tidak akan membunuh manusia.

"Sebenarnya jika ada lebih banyak lebah, kami justru mau disengat untuk merasakan seperti apa. Tapi karena hanya menemukan seekor, kami tak ingin mengganggu dan membuatnya kesal," kata Robson. Saat membuat sarang Peneliti lebah dari LIPI Sih Kahono menyebut M. pluto memiliki perilaku yang sangat unik. Lebah betina Wallace akan menggunakan resin atau getah dari tanaman seperti Anisoptera thurifera untuk membuat sarang di dalam sarang rayap Microcerotermes amboinenses. Lebah betina yang ukurannya sangat besar akan keluar masuk sarang rayap, mencari dan membawa resin untuk "ruang pribadinya".

Hal ini pula yang dijumpai empat peneliti Internasional di hutan hujan tropis Maluku Januari lalu. Sebelum menemukan dan memotret lebah Wallace, mereka menjumpai gundukan sarang rayap di sebuah pohon. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat, lebah Wallace ditemukan pertama kali pada 1859 oleh Alfred Russel Wallace. Namun baru pada 1861 lebah ini dideskripsikan dan dinamai oleh Frederick Smith.

Sejak saat itu, lebah Wallace hanya dijumpai dengan hitungan jari, yakni pada 1863, 1951, 1953, 1981, 1991, dan terakhir 2019. Meski lebah Wallace merupakan jenis asli dan endemik dari Maluku Utara, namun belum ada yang disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense sebagai pusat depositori nasional sekaligus museum zoologi terbesar di Asia Tenggara. Koleksi yang diperoleh sejauh ini disimpan di museum besar dunia seperti di Inggris, Belanda, dan Amerika Serikat.

Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Cahyo Rahmadi mangatakan, lebah Wallace memiliki nilai ekonomi tinggi dan pernah dijual ratusan juta rupiah.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *