Begini Analisis Psikolog Kasus Cekcok Berakhir Penusukan di Mall Pluit Village

Seorang pegawai restoran Banainai di Pluit Village berada dalam kondisi kritis karena lehernya disabet oleh rekan kerjanya. Kejadian ini berawal dari cekcok antara korban dan pelaku. Korban ingin melaporkan pelaku ke bosnya karena pernah dipukul pelaku.

Merasa tidak senang, pelaku sempat pulang untuk mengambil pisau panjang. Sekembalinya ke restoran, keduanya kembali terlibat cekcok hingga pelaku menyabet leher korban dengan pisau kecil yang ada di restoran. Dalam keadaan berdarah darah, korban pun meminta tolong pada warga sekitar.

Peristiwa ini juga sempat terekam oleh pengunjung mall dan tersebar luas di media sosial. Menanggapi kasus ini, psikolog Universitas Negeri Semarang, Hening Widyastuti, menjelaskan bahwa antara dua orang yang terlibat cekcok, seringkali ada konflik lama yang belum terselesaikan sehingga rasa benci dan dendam semakin lama semakin membesar. Hingga pada akhirnya, ada stimulus yang kembali menjadi pemicu pertikaan.

Hening berkata bahwa persoalan awalnya bisa jadi hanya masalah sepele. Namun, karena sudah berkonflik dalam waktu yang lama, pertikaian bisa jadi meledak pada momen momen tertentu. "Rasa kebencian dan dendam yang mendera mengakibatkan akal pikiran jernihnya tertutup sehingga dia tidak mampu untuk mengontrol dirinya sendiri berpikir jernih," katanya.

Orang yang berada dalam kemarahan tersebut, di dalam pikirannya hanya mempunyai satu solusi, yaitu membunuh untuk menyelesaikan pertikaan tersebut. Hening berkata bahwa kejadian ini tidak mengindikasikan adanya kelainan jiwa pada pelaku. Pasalnya, orang normal pun bisa melakukan tindakan keji di muka umum, dengan catatan sudah ada dendam kesumat atau selisih paham sejak lama.

Biasanya, orang orang yang rentan mengalami ledakan emosi karena dendam yang sudah lama memiliki karakter introvert. Mereka terbiasa memendam tanpa mengkomunikasikan persoalan yang sedang dihadapi. Oleh karena itulah, saat terjadi selisih kecil, dendam yang ada semakin terpantik dan keluar dalam bentuk kemarahan yang memuncak hingga sanggup bertindak dan membunuh lawannya.

"Saran saya memang bila kita memiliki konflik dengan teman, segeralah diselesaikan lebih awal untuk cari solusinya, karena konflik yang terpendam sangat membahayakan, baik psikologis maupun non psikologis," ujarnya ketika dihubungi Kompas.com pada Senin (26/8/2019). Menurut Hening, dalam posisi seperti kasus di atas (terjadi di mall yang ramai), orang yang melihat kejadian tersebut sebaiknya belajar untuk peduli. Salah satunya dengan cara memanggil petugas keamanan terdekat untuk bisa diselesaikan lebih awal.

Namun tidak dapat dimungkiri bahwa orang yang melihat kejadian cekcok hingga berujung percobaan pembunuhan tersebut akan mengalami syok. Bila syok, hal pertama yang harus dilakukan ialah menenangkan diri terlebih dahulu, serta menghindari tontonan yang isinya kekerasan fisik. Selanjutnya, hindarilah membaca berita di media massa atau media sosial yang berkaitan dengan kekerasan fisik.

Lalu karena tidak sedikit orang yang akan sulit menghilangkan syok berat dari kejadian yang sifatnya tragis, maka Hening juga menyarankan untuk mendapatkan dukungan dari orang orang di sekitar. Tujuannya untuk membantu memulihkan kepercayaan diri serta menjauhkan trauma. "Minta tolong kepada suami atau pasangan, dan keluarga kita untuk men support (mendukung) yang bersifat membangun dan menguatkan psikis kita," ujarnya.

Membaca buku juga dapat menguatkan jiwa dan pikiran, atau bila tidak suka membaca buku bisa terlibat dalam komunitas spiritual yang positif, misalnya pengajian atau gereja, hingga perasaan trauma akibat kejadian hilang.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *